Author: kuroneko
Rating: PG
Genre: Romance,
School Life
Length: Twoshoot
Main Cast:
-Lee Sang Hee (OC)
-Wu Yi Fan
-Lee Sang Hee (OC)
-Wu Yi Fan
Disclaimer:
Annyeong!! (>o<)/ kali ini author menyuguhkan(?) sebuah cerita yang sedikiiiiit berbeda
dari 2 FF sebelumnya. Masih Romance sih, tapi yang ini bertema School Life biar
lebih fresh, hehe :3.
Cast milik Tuhan, dan orangtua mereka masing-masing. All the story is mine.J
Cast milik Tuhan, dan orangtua mereka masing-masing. All the story is mine.J
Don’t
Copy Without Permission, Don’t Bash, Happy Reading, and Please drop your
Comment ^_^
*Beware! Typo Everywhere!!*
========================================================================
-Sang Hee POV-
Cinta. Apa itu cinta? Aku rasa sudah banyak orang bependapat
mengenai cinta seakan mereka tahu arti sebenarnya tentang cinta. Mereka bilang
cinta begini, mereka bilang cinta begitu, mereka bilang cinta bla bla bla....
Aku sudah muak mendengarnya.
Ya, kalian benar. Aku tak tahu apa-apa tentang cinta. Aku
adalah seorang gadis yang selama 17 tahun ini belum pernah merasakan jatuh
cinta. Sangat langka bukan? Yah, sudahlah. Toh aku tak pernah merasa terbebani
oleh hal itu. Love is not my style.
Hoaaahhhmm. Kenapa pelajaran ini belum berakhir juga? Angka,
rumus, ahh.. benar-benar membosankan.
Aku ingin cepat-cepat istirahat dan mendengarkan lagu-lagu favoritku di
halaman belakang sekolah. Tempat favoritku untuk menghabiskan waktu istirahat.
*krriiinggg krringgg...*
Yes! Akhirnya istirahat juga. Segera kuambil kotak makan
siangku dan kupasang headphone-ku, lalu segera kulangkahkan kakiku ke taman
belakang sekolah. Berbeda
dengan sekolah lain, sekolah ini mempunyai taman belakang yang sangat
indah, tapi anehnya tak ada seorangpun yang pernah kesana kecuali
aku......................... dan tukang kebun sekolah tentunya, hehe. Beberapa
langkah mendekati pohon tempat favoritku disana, samar-samar aku melihat ada
seorang namja yang tengah bersandar dibawahnya dengan wajah yang penuh
kesedihan dan rasa putus asa.
Kulangkahkan kakiku lebih dekat secara diam-diam agar dia
tidak menyadari keberadaaanku. Tak jauh dari tempat namja itu, aku mendengar
dia seperti sedang berbicara sendiri. Ya, sendiri! Apakah dia masih normal? Kudekatkan
telingaku untuk memastikan apa yang dia ucapkan.
“..... aku masih menyayangimu. Mengapa kita harus berpisah
seperti ini? Chagiya, i still love you..”, Hah? Apa aku tak salah dengar?
Ternyata dia sedang patah hati. Patah hati? Ya, sepertinya orang-orang
menyebutnya seperti itu. Apakah orang yang patah hati memang suka berbicara
sendiri seperti itu? Ahh, Mollayo... Lebih baik aku pergi saja dari sini,
daripada terus mendengarkan jeritan hati orang itu. Wait, orang itu? Oiya, aku
belum memastikan wajahnya. Tak apa kan aku sedikit mengintipnya? Tenang saja,
aku hanya ingin melihat wajahnya. Sedikit lagi......... sedikiiiitt........
dan..... Oh My God! Ternyata dia Wu Yi Fan Sunbae!! Namja kelas 3 yang
digandrungi hampir semua yeoja di sekolah ini, tentu saja aku tidak termasuk
hitungan.
Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 10.55, 5 menit lagi
istirahat segera berakhir. Aku harus segera pergi darisini sebelum dia
melihatku.
-oOo-
*kriinggg krrinng krriiingg*
Bel tanda pulang sekolah pun berdering. Tak seperti
biasanya, hari ini aku malas sekali pulang sekolah. Daritadi pikiranku selalu
dipenuhi orang itu. Wu Yi Fan. Aisshhh... ada apa sebenarnya denganku?
Kutempelkan telapak tangan di dahiku. heumm..... aku tidak demam. Tapi kenapa
aku jadi seperti ini? Kenapa aku terus kepikiran orang itu? Ini bukan seperti
aku yang biasanya. Ah, sudahlah. Tak perlu memusingkannya lagi. Mungkin dengan
tidur siang aku bisa ‘normal’ kembali.
Segera kukemasi barang-barangku dan bergegas pulang ke
rumah. Jarak antara rumah dan sekolahku memang tak terlalu jauh, jadi aku hanya
perlu berjalan kaki saja untuk pulang ataupun pergi sekolah.
-oOo-
“Wu Yi Fan..... Yi Fan sunbae....... Yi Fan.......................”
Aisshhh... Apa yang sedang aku gumamkan? Aku harus belajar
untuk ulangan bahasa Inggris besok. Aku tak mau nilaiku hancur hanya gara-gara
seorang Wu Yi Fan yang beberapa menit lalu selalu mengganggu pikiranku. Yosh,
Fighting!
.......................
Tapi..... tadi dia benar-benar terlihat menyedihkan. Separah
itu kah kesedihan yang dialami seseorang ketika patah hati? Tentu saja orang
yang awam tentang cinta sepertiku ini tak akan bisa memahaminya. Tak bisakah
aku membantunya menghilangkan kesedihannya? Yahh... setidaknya aku ingin
mengurangi rasa sedihnya. Bisakah aku? Bagaimana caranya?
Kulihat di sekitar meja belajarku, dan aku menemukan se-pack
amplop di laci mejaku. Aku ingat dulu aku pernah membelinya, tapi aku lupa
untuk apa.
Aha! Aku tau.
Daripada tidak kugunakan, lebih baik amplop-amplop ini aku
gunakan untuk itu saja. Untuk menghibur Yi Fan Sunbae.
‘Jangan kau pelihara.............’
-oOo-
-Kris POV-
*sigh*
Rasanya kakiku berat sekali untuk melangkah ke sekolah. Aku
sengaja datang 1 jam lebih pagi untuk belajar di perpustakaan sekolah. Tapi
banyak hal yang membebaniku daritadi. Bagaimana jika nanti aku bertemu Park Ha
Ni? Haruskah aku bersikap seakan-akan aku tak mengenalnya? Itu tidak mungkin
sekali kan?! Semua orang tahu kalau kami adalah pasangan yang sangat serasi.
Yah... setidaknya sampai sebelum kemarin. Tak ada yang mengetahui kalau aku
telah diputuskan oleh Ha Ni. Apa yang akan terjadi di kelas nanti? Argghh...
Kepalaku pusing hanya memikirkan hal itu.
Segera kulangkahkan kaki menuju lokerku untuk mengambil
beberapa buku. Baru saja kubuka, tiba-tiba ada sebuah amplop berwarna biru
langit dengan gambar awan di tiap sudutnya. Aneh. Padahal kemarin sepulang
sekolah aku tidak melihat amplop ini di lokerku. Apakah tadi pagi seseorang
menyelipkannya supaya aku tidak tahu siapa dia?
Hmm... daripada terus dihantui rasa penasaran, kubuka amplop
itu dan kubaca surat di dalamnya.
‘Jangan kau pelihara
wajah sedihmu itu. Tersenyumlah.
Kau tahu? Jika kau bersedih selama 5 menit saja, wajahmu akan mulai menumbuhkan keriput-keriput yang akan membuatmu terlihat menjadi lebih tua. Apalagi jika kau sedih selama berhari-hari. Dalam sekejap kau akan menjadi kakek-kakek. xD
Kau tahu? Jika kau bersedih selama 5 menit saja, wajahmu akan mulai menumbuhkan keriput-keriput yang akan membuatmu terlihat menjadi lebih tua. Apalagi jika kau sedih selama berhari-hari. Dalam sekejap kau akan menjadi kakek-kakek. xD
-Seseorang yang tak ingin melihatmu menjadi
kakek muda-’
Hah?? Kakek muda? Hahaha... Apa-apaan isi surat ini? Sangat
aneh. Mana mungkin wajahku yang setampan ini akan segera menjadi seperti
kakek-kakek? Ckckck... Siapapun yang mengirim surat ini pasti orang yang sangat
aneh.
Tunggu dulu.
Darimana pengirim surat ini tahu kalau aku sedang sedih?
Apakah dia memata-mataiku kemarin? Apa itu berarti berita tentang aku yang
telah putus dengan Ha Ni sudah tersebar di seuluruh sekolah? Jangan sampai hal
itu terjadi.
Segera kumasukkan surat itu kedalam tasku dan berlari menuju
mading sekolah. Aku ingin memastikan bahwa pengirim surat itu tidak menyebarkan
beritanya.
Sesampainya di lorong sekolah yang terdapat mading umum
kulihat tak ada pemberitahuan apapun disana. Huh... Syukurlah dia tidak
menyebarkannya ke seisi sekolah.
-oOo-
Kira-kira siapa seseorang yang mengirim surat ini padaku? Mengapa ia bisa tahu tentang
kesedihanku? Dan.... Mengapa ia ingin melihaku tersenyum? Apakah dia bermaksud
menghiburku?
Sedari
tadi aku meneliti surat itu, dan aku yakin pengirimnya adalah seorang yeoja.
Kenapa aku sangat yakin? Karena tulisannya sangat rapi, dan
amplop yang ia gunakan terlihat sangat cantik. Lagipula, sangat tidak
memungkinkan seorang namja mengirim surat seperti ini padaku. Kecuali jika
dia...................
Ah, daripada aku terus memikirkan surat ini, lebih baik aku
membaca beberapa buku astronomi di perpustakaan.
Kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan sekolah, tujuan
awalku datang lebih pagi. Kutelusuri koridor sekolah, benar-benar masih sangat
sepi.
*brukkk*
Tak sengaja aku menabrak seorang yeoja. “Ouch... Appo...”,
yeoja itu merintih kesakitan karena ia jatuh tergeletak di lantai dan semua
bukunya berantakan.
“Mianhae..”, segera kutolong yeoja itu dan kubantu merapikan
buku-bukunya. “Sekali lagi aku minta maaf.. Aku benar-benar tidak sengaja..”.
“Gwaenchanayo, eung.... ireumeun?”
“Yi Fan imnida.. Wu Yi Fan. Kelas XII IPA-3.”, kuulurkan
tanganku padanya. “Ah, ternyata kau Yi Fan Sunbaenim.. teman-temanku banyak
yang sering membicarakanmu. Sunbae benar-benar terkenal ya..? Naneun Lee Sang
Hee imnida, kelas X IPA-1. Bangapseumnida, sunbaenim..”, diapun balas menjabat
tanganku seraya membungkukkan badannya. “Nado bangapta... Kau... Apa kau
terluka?”. “Anieyo, nan gwaenchanayo. Geureom...... aku pergi dulu sunbaenim,
ada hal yang harus kulakukan. Annyeong!..”, diapun pergi. Kulihat ia
melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. Terlihat buru-buru sekali.
Lee Sang Hee. Dia telihat sangat cantik.
Aishh.. Apa yang aku pikirkan? Aku harus segera ke
perpustakaan, sebelum murid-murid yang lain datang.
Di Perpustakaan
Sekolah
Sangat aneh. Belum ada seorangpun yang datang kecuali yeoja
petugas perpus dan Lee Sang Hee, hoobae yang tak sengaja kutabrak tadi. Apakah
pengirim surat itu salah satu dari mereka? Tidak mungkin. Petugas perpus pasti
sangat sibuk dan tak punya waktu untuk melakukan hal konyol seperti itu. Lee
Sang Hee? Ah, pasti bukan. Dia saja baru tahu wajahku. Tak mungkin kalau ia
yang menaruh surat itu
di lokerku. Lalu siapa? Ahh... Aku benar-benar sangat bingung.
-oOo-
Author POV
Bel pulang sekolah telah berdering beberapa saat yang lalu,
namun masih ada seorang yeoja yang belum beranjak dari tempat duduknya. Ia
terlihat sedang menulis sesuatu. Disaat tengah menulis, tanpa ia sadari seorang
namja memperhatikannya dari luar kelas. Namja itu terlihat menyunggingkan
bibirnya. Tidak, bukan tersenyum. Lebih tepatnya terlihat seperti smirk.
Apa yang
ditulis yeoja itu? Siapakah dia?
Siapa pula namja misterius yang memperhatikan yeoja itu?
-TBC-
