Rabu, 25 Maret 2015

Flash Memory


Author: kuroneko

Rating: PG 15

Genre: Romance, School Life

Length: Oneshoot

Main Cast:
- Jung Soo Jung (Krystal) - f(X)
-
Kang Min Hyuk – CNBLUE

Other Cast:
- Park Sun Young (Luna) – f(x)

Disclaimer:
Cast milik Tuhan, dan orangtua mereka masing-masing. All the story is mine. FF ini terinspirasi dari Manga karya Nakamura Sayumi yang berjudul ‘Always by Your Side’, dan salah sau cerita di Manga itu berjudul ‘Flash Memory’. Entah kenapa author pengen banget bikin cerita ini jadi FF, makanya jadilah FF berjudul ‘Flash Memory’ ini dengan cast sepasang couple yan menurut author cocok banget klo mereka pacaran beneran. Hehe... x) Semoga kalian suka ceritanya 

Don’t Copy Without Permission, Don’t Bash, Happy Reading, and Please drop your Comment ^_^

*Beware! Typo Everywhere!!*



-Krystal POV-

Namaku Jung Soo Jung, atau biasa dipanggil Krystal. Aku bersekolah di Star High School, sekolah ternama di Seoul. Beberapa bulan lagi sekolahku akan mengadakan upacara kelulusan untuk angkatanku. Maka dari itu, aku akan menjadi petugas album kelulusan yang mewakili kelasku.

Akupun memasuki ruang rapat yang ada di pusat sekolah. Baru beberapa langkah dari pintu masuk, tiba-tiba aku melihat lampu blitz menyala.

*klik!*

Sudah kuduga, pasti dia juga ada disini.

Seseorang yang tak pernah melepaskan kameranya kemanapun dia pergi, Lee Min Hyuk. Dulu waktu kelas XI, kami pernah sekelas, dan............... aku...... aku diam-diam menyukainya dari saat itu, hingga sekarang.

Sejak naik kelas XII, walaupun kelas kami berbeda, tapi aku selalu berpikir untuk mencoba mendekatinya. Maka dari itu aku menjadi petugas album kelulusan juga. Karena kami akan segera lulus, setidaknya aku ingin menciptakan kenangan indah bersamanya, walau hanya satu kali.

"Eh, Krystal.. kau juga menjadi panitia album kelulusan ya?", salah seorang panitia dari kelas lain menyapaku. "Iya, mohon bantuannya..", akupun membalas sapaannya seraya membungkukkan badanku.

"Krystal... Soo Jung??", Oh my gosh, Min Hyuk menyebut namaku dan menghampiriku. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus tetap bersikap wajar. Control your heart, Krystal.. Stay Calm..

"Krystal? Kau masih mengingatku, kan? Dulu waktu kelas XI kita sekelas. Aku Min Hyuk, Lee Min Hyuk. Kau ingat?"

*deg*

"Eh? Lee Min Hyuk? Aah... sepertinya aku ingat..", duh, apa yang telah kukatakan? Sama sekali tidak lucu. Segera ku palingkan wajahku agar dia tak melihat ekspresi anehku.

"Hmm.. Kamu sekarang sudah terlihat dewasa, ya.. Semakin cantik saja.."

*deg*

"Krystal, coba lihat ke sini deh. Aku ingin memotretmu.", Apa? Memotretku? duh... bagaimana ini? Apa aku harus meng-iya-kannya?.

"Ayo, senyum dong!", dia mengarahkan kameranya padaku, bersiap-siap untuk memotret.

"Jangan! Aku tidak suka dipotret!", tanpa sengaja aku mengatakan itu dan mengalihkan wajahku dari kameranya. Aishh... kenapa aku selalu seperti ini? Aku harus segera mengalihkan pembicaraan.

"Kau sama seperti dulu, kemanapun selalu membawa kamera. Cocok sekali jadi petugas album. Kau itu benar-benar penggila kamera ya?!", mengalihkan? sepertinya aku gagal. Aishh.. Pabo Krystal!

"Eh? Ternyata selama ini kau selalu memperhatikanku, ya?"

A-apa dia bilang? Memperhatikannya?

*deg*

"I... Itu kan semua orang juga tahu.... Terkenal kok, kamu gila kamera!", duh... Kenapa aku tidak bisa bersikap biasa saja? Dia pasti marah....

"Kau juga, cocok sekali menjadi petugas album kelulusan"

Hah? Mwoya? Apa yang baru saja dia katakan?

"Kamu pintar mengarang atau membuat cerita, kan? Waktu kelas XI kau juga sering mendapat penghargaan, kan?"

*deg*

Ternyata dia juga memperhatikanku... Oh, Tuhan... Aku tak menyangka Min Hyuk juga memperhatikanku..

"Min Hyuk!", tiba-tiba seorang yeoja memanggilnya. Diapun menghampirinya.

"Hei, kamu mau kuliah dimana?".

Kuliah? Oh iya, aku belum tahu dia akan kuliah dimana. Apa tak apa-apa jika aku sedikit menguping pembicaraan mereka?

"Tentu saja aku akan kuliah di Amerika, di sekolah khusus fotografi". Huh? Amerika? Apa dia serius?

"Kau benar-benar akan kuliah di Amerika? Kita jadi tidak bisa bertemu dong?", yeoja itu mencoba memastikan perkataan Min Hyuk. Min Hyuk, aku mohon katakan kalau kau tadi hanya bercanda.. 

Jebal...

"Ya, mau bagaimana lagi? Aku sangat ingin belajar disana dan menjadi Fotografer handal".

Game Over. 

Dia benar-benar serius. 

Karena aku rasa sudah cukup mendapatkan informasi, akupun beranjak dari tempatku menguping.

Amerika.. Itu kan sangat jauh. Kita jadi berpisah....

Jadi ini adalah kesempatan terakhir untukku. Aku harus mengungkapkan perasaanku padanya.

-oOo-


Keesokan harinya @Ruang Rapat

"Teman-teman... Kata songsaengnim kita sudah boleh pulang! Eh.. Apa yang kalian lakukan pada Min Hyuk?"

"Sst... jangan berisik, Krystal.. Dia sedang tertidur. Mumpung ada kesempatan, kita corat-coret saja tangannya. Kau mau coba?", Luna, panitia paling iseng memberikan spidol padaku. Apa yang sebaiknya aku tulis?

Tanpa sadar tanganku seakan bergerak sendiri diatas telapak tangan Min Hyuk. Entah apa yang aku tulis disana. Aku tak berani melihatnya. Belum selesai aku menulis, tiba-tiba..

*klik!*

Hah? Apa yang tadi aku tulis?

‘Saranghae’?

"Hore! Foto in pasti akan dimuat di album!", sial. Tanpa kusadari, tadi Luna memotretku saat sedang menulisi tangan Min Hyuk.

"Hoaahmm... Eh? Ada apa ini? Kenapa kalian cekikikan semua?", tiba-tiba Min Hyuk terbangun. 

Ketika ia hendak mengucek matanya, iapun tersadar tangannya penuh coretan. “Yaaa! Apa yang kalian lakukan pada tanganku?”

Min Hyuk segera pergi ke toilet untuk menghapus coretan-coretan di tangannya itu.

“Ugh, akhirnya tehapus semua...”, Min Hyuk baru saja kembali ke ruang rapat dengan masih memasang wajah sebalnya.

“Eh? Min Hyuk, ada apa dengan ibu jarimu? Kenapa kau menutupinya dengan plaster?”, seperti biasa, Luna selalu saja ingin tahu masalah orang lain.

“Oh, ini? Ketika mencuci tanganku tadi aku melihat tulisan yang indah, jadi aku sengaja menutupinya agar tidak terhapus.”

*deg*

Itu kan.... Lokasi aku menulis tadi. Jangan-jangan.......

Oh tidak! Min Hyuk tersenyum ke arahku! Apa dia tahu kalau aku yang menulisnya? Semoga saja tidak. Aku harus bisa bersikap wajar, agar dia tidak mengetahuinya. “Memangnya apa yang tertulis disitu?”

“Hmm... Menurutmu apa? Coba tebak..”, a-apa? Kenapa dia malah balik bertanya padaku?

“Pasti hanya tulisan yang aneh kan? Huh.”, aku segera berpaling, namun dia tiba-tiba menahanku. 

“Memang, hanya satu kata yang aneh”.

*deg*

Dia berbicara seperti itu karena tahu bahwa aku yang menulisnya? Atau, dia punya maksud tertentu?

Dia tidak berubah. Selalu saja susah ditebak.

15 menit kemudian pintu terbuka, dan Kim Seongsaengnim memasuki ruang rapat samil membawa beberapa pack kertas HVS. “Selamat siang semuanya. Kalian pasti perwakilan petugas album kelulusan dari seluruh kelas XII kan?”

“Ne.”

“Baiklah, tanpa basa-basi lagi, saya akan membagikan kertas-kertas ini. Setiap kelas mendapat 1 pack. Setiap siswa harus menulis sebuah karangan tentang ‘Masa Depanku’, dan kalian sebagai perwakilan kelas akan menyusun dan mendesain tampilan karangan mereka. Kalian mengerti?”

“Ne, seongsaengnim.”

“Oke, kalau begitu saya akan mempercayakan semuanya kepada kalian. Selamat siang.”

5 menit setelah Kim Seongsaengnim meninggalkan ruang rapat, semua siswa menjadi gaduh membicarakan karangan apa yang akan mereka tulis.

Luna terlihat sangat antusias, ia menanyai cita-cita semua siswa di ruang rapat satu per satu. “Min Hyuk, cita-citamu apa?”

“Aku? Tentu sja menjadi seorang Fotografer handal!”

Ah, ternyata dia memang ingin menjadi Fotografer.

“Sudah kuduga. Kalau kau, Krystal? Apa cita-citamu?”, Luna mengambil kertas karanganku dan membacanya dengan lantang. “Hah? Apa ini? ‘Aku ingin menikah dengan orang yang memiliki cita-cita’? Krystal, kau menulis hal yang unik. Hahaha”

“Hei, kembalikan karanganku!”, huh.... dia memang menyebalkan.

Min Hyuk menghampiriku dengan senyum hangatnya. “Kenapa kau kesal begitu? Ini kan cita-cita yang bagus.”

“Bagus apanya? Ini ‘kan bukan cita-cita yang serius.. hmph.”, dia pasti akan segera menertawaiku seperti yang lainnya.

“Oh.. Kalau begitu, menurutmu ‘cita-cita yang serius’ itu seperti apa?”, eh? Dia benar-benar menanggapi karanganku dengan serius.

Jujur saja, aku juga tidak tahu mengenai hal itu. “Hmm... Bagaimana ya?”

“Kalau Fotografer?”

“Eh?”, Min Hyuk... Dia...?

“Aku sangat bersungguh-sungguh ingin menjadi Fotografer. Apa menurutmu... Fotografer termasuk cita-cita yang serius?”

Dia.....

Surat cinta yang kutulis di tangannya... Ternyata dia tahu bahwa itu aku..

“Krystal, diantara kita semua, hanya Min Hyuk yang memiliki cita-cita. Jadi, kamu ingin menikah dengan Min Hyuk? Hahaha”, lagi-lagi Luna menertawaiku, dan sekarang anak-anak yang lain juga iku menertawakan cita-citaku. 

Dasar menyebalkan!

“Enak saja! Kenapa aku harus menikahi dia? Walaupun Min Hyuk sangat menyukai kamera, belum tentu dia bisa jadi Fotografer ‘kan! Kalau hanya berbicara memang mudah.”

Huh? Apa yang telah ku katakan? Tanpa sadar, semuanya terucap begitu saja. Min Hyuk menatapku dengan ekspresi penuh rasa kesal dan meninggalkan ruang rapat.

Baboya! Aku benar-benar bodoh.

Surat cinta yang kutulis di tangannya...

Mimpi yang kutulis di tugas karangan untuk kelulusan...

Kesempatan untuk menyatakan perasaanku pada Min Hyuk...

Semua hancur berantakan.

-oOo-


1 Minggu kemudian @Ruang Rapat

“Pekerjaan dari para petugas album kelulusan untuk mengambil kumpulan foto-foto, hari ini selesai. 

Terimakasih atas kerja keras kalian. Selamat siang.”, Kim Seonsaengnim mengakhiri rapat terakhir kami siang ini.

Itu artinya, hari ini juga merupakan kesempatan terakhirku untuk meminta maaf pada Min Hyuk atas insiden Minggu lalu.

“Teman-teman, sebagai kenang-kenangan terakhir, bagaimana kalau kita foto bersama? Kalian setuju ‘kan?”. Lagi-lagi Luna. Dia selalu memiliki ide-ide yang aneh, tapi... tidak buruk juga.

Ah, aku harus memanfaatkan kesempatan ini.

Segera kuhampiri Min Hyuk yang sedang menyiapkan kameranya. “Nng.... Min Hyuk-ah...”

“Min Hyuk, nanti aku boleh tidak foto di sampingmu?”, sepertinya suaraku tidak terdengar. Siswa lain tiba-tiba muncul dan menyelaku.

“Tentu saja boleh.”

Tidak!

Tidak boleh!

Harus aku yang di sebelah Min Hyuk...

“K-Krystal?”, gawat! Tanpa sadar aku menghampiri Min Hyuk dan memeluknya dari belakang! Ah, bagaimana ini?

“Min Hyuk-ah, s-sa-sa... sa... saranghae!”, aku tak berani menatap wajahnya. Aku takut.

“Selama ini aku selalu menyukaimu. Mian... Mianhaeyo..... aku....”, aku semakin menundukkan wajahku.

“Gwaenchana, Soo Jung-ah.. Ini....”, Min Hyuk membuka plaster yang menutupi ibu jarinya. “Ini kau yang menulisnya ‘kan?”, ternyata dia memang tahu kalau itu aku. Air mataku tiba-tiba menetes, aku tak tahu harus bagaimana. Min Hyuk membalas pelukanku. 

Dia memelukku sangat erat.

“Kau selalu menghindar.. Tak pernah terus terang pada perasaanmu sendiri. Aku jadi tak bisa memahamimu. Aku pikir hanya aku yang selama ini menyukaimu... Aku kira cintaku ini akan bertepuk sebelah tangan... Tapi syukurlah, ternyata hal itu tidak terjadi. Nado Saranghae, Soo Jung-ah..”

“Hey! Kalian jangan asyik di dunia kalian sendiri seperti itu! Kita juga masih ada disini. Oh ya, ayo kia segera foto bersama!”

“Ne.. Arasseo, Luna-ssi.. hehe..”

Aku dan Min Hyuk segera mencari spot yang tepat untuk foto bersama. Timer-pun mulai menyala.

3...

“Soo Jung-ah...”

“Eum?”

2...

“Saranghae”

1...

*chu~*

*klik!*

“Waah!~ Chukkaeyo... Selamat untuk kalian berdua... hahaha.. Gara-gara kalian foto kita jadi hancur. Bagaimana ini, tuan calon Fotografer?”

“Hehe, Mian... Sebagai permintaan maafku, aku akan traktir kalian semua di Cafe setelah ini! Setuju?”

“Yehet! Kajja~!!”, mereka semua senang sekali menggoda kami. Yah, tapi tak apalah. Yang penting saat ini, aku dan Min Hyuk telah menjadi sepasang kekasih, hehe.

Disinari lampu blitz itu, cinta kita mulai tumbuh.

This is our...

Beautiful ‘Flash Memory’.


‘Cita-citaku di masa depan’
Oleh Jung Soo Jung, kelas XII A
Cita-citaku adalah menjadi istri...

Seorang Fotografer.


-END-

Who Are You? (Chapter 2/2 END)


Author: kuroneko

Rating: PG

Genre: Romance, School Life

Length: Twoshoot

Main Cast:
-Lee Sang Hee (OC)
-Wu Yi Fan

Other Cast:
-Find it by yourself ^^

Disclaimer:
Annyeong!! >o<)/ kalian nungguin FF lanjutan ini gak?? *reader: nggaakk* yaudah deh gapapa. Yang penting lanjutannya udah author bikin, jadi ceritanya gak nanggung.
Cast milik Tuhan, dan orangtua mereka masing-masing. All the story is mine.

Don’t Copy Without Permission, Don’t Bash, Happy Reading, and Please drop your Comment ^_^

*Beware! Typo Everywhere!!*

Cerita Sebelumnya:

Bel pulang sekolah telah berdering beberapa saat yang lalu, namun masih ada seorang yeoja yang belum beranjak dari tempat duduknya. Ia terlihat sedang menulis sesuatu. Disaat tengah menulis, tanpa ia sadari seorang namja memperhatikannya dari luar kelas. Namja itu terlihat menyunggingkan bibirnya. Tidak, bukan tersenyum. Lebih tepatnya terlihat seperti smirk.

Apa yang ditulis yeoja itu? Siapakah dia?

Siapa pula namja misterius yang memperhatikan yeoja itu?



Author POV

“Yap! Akhirnya selesai juga.. Sekarang tinggal aku taruh di lokernya saja..”, yeoja itu tersenyum sambil menatap lekat sebuah amplop yang dipegangnya.

“Aku harap dia akan membacanya”. Setelah membulatkan tekadnya, yeoja benama Lee Sang Hee itu beranjak dari tempat duduknya dan menuju loker sekolah. Namun, baru saja sampai di depan pintu kelas, sesosok namja bertubuh tinggi menghadangnya. Sang Hee tak bisa menatap wajah namja yang menghadangnya itu karena terhalang sinar matahari sore yang menelusup melalui jendela kelas.

“Chogiyo… kau menghala-“

Belum tuntas yeoja itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tangan Sang Hee ditarik oleh namja tadi, entah kemana namja itu akan membawanya.



Di Halaman Belakang Sekolah.

Sang Hee POV

Halaman belakang? Kenapa dia membawaku kesini?

Tunggu..

Kenapa dia bisa tahu tempat ini?

Siapa sebenarnya namja ini?

Aku tak bisa melihat wajahnya daritadi. Jinjja… membuatku penasaran saja.

Kulihat namja itu hendak membalikkan badannya. Kuperhatikan setiap gerak-geriknya, daan setelah tepat menghadapku, dia benar-benar membuatku terkejut.

Ternyata namja yang menarikku ke halaman belakang ini adalah Huang Zi Tao, murid pindahan dari Qingdao, China yang sejak satu minggu yang lalu telah menjadi teman sekelasku.

“aishhh Tao-ya, ternyata kau yang membawaku kesini. Aku kira kau penculik karena tiba-tiba menarikku begitu saja..”

“Sang Hee-ah, please….”, Tao tiba-tiba menggenggam kedua tanganku, genggamannya sangat erat sehingga aku tak bias melepasnya.

Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba seperti ini? “Tao-ya, gapjagi wae? wae geuraeyo?”, kulihat tatapan matanya tak seperti biasanya. Biasanya matanya terlihat tajam, tapi kali ini…. mata itu memancarkan kesedihan yang sangat kuat, seakan ia akan kehilangan seseorang yang sangat ia sayang.

“Please, don’t fall for him, Sang Hee-ah. I love you. Please, would you go out with me?”

“M-mwoya?  Ap-apa yang baru saja kau katakan? You said that you love me? Ah.. aku pasti salah dengar. Mana mungkin kau mengatakan itu, ya kan?”

“Tidak. Kau tidak salah dengar, aku memang mengatakannya. Saranghaeyo, Sang Hee-ah..”, tiba-tiba Tao memelukku. Sangat erat, sehingga aku tak bias melepaskannya.

Entah kenapa, tubuhku merasakan kehangatan ketika dia memelukku seperti ini.

Rasanya seperti….. aku ingin tetap seperti ini.

Ah, tunggu. Apa yang aku pikirkan? Dia pasti menjebakku. Aku harus terus hati-hati, jika tidak........

“Lepaskan aku!”, aku mulai memberontak dan Tao pun melepaskan pelukannya.

“Apa yang sebenarnya kau rencanakan, huh? Darimana kau tahu tempat ini? Kenapa kau tiba-tiba membawaku kesini? Dan apa maksud perkataanmu tadi? Jawab aku!”


Author POV

“Apa yang sebenarnya kau rencanakan, huh? Darimana kau tahu tempat ini? Kenapa kau tiba-tiba membawaku kesini? Dan apa maksud perkataanmu tadi? Jawab aku!”, Sang Hee menatap sinis pada Tao dan melontarkan berbagai pertanyaan padanya layaknya sebuah introgasi.

“Aku tak merencanakan apapun yang buruk padamu. Aku hanya mencintaimu. Apa kau tak boleh mencintaimu? Aku tahu tempat ini karena aku sering membuntutimu kesini. Taman belakang ini pasti tempat favoritmu, kan? Aku membawamu kesini, karena aku ingin menyatakan perasaanku di tempat ini, tempat dimana aku pertamakali jatuh cinta padamu. Aku tahu akhir-akhir ini kau sering memperhatikan Yi Fan sunbae, tapi aku tak ingin kalah darinya, karena aku benar-benar mencintaimu. Lagipula, Yi Fan sunbae belum tahu kalau pengirim surat misterius itu adalah kau, kan?”, Tao menjawab semua pertanyaan Sang Hee secara rinci, membuat Sang Hee terpaku mendengarnya.

“Mianhae, Tao-ya.. Kau mungkin memang mencintaiku, tapi aku… aku sudah mencintai orang lain.. Jeongmal mianhae…”, Sang Hee menggenggam tangan Tao sambil meminta maaf padanya. Ia sangat merasa bersalah karena telah menolak orang yang mencintainya.

Tao menatap wajah Sang Hee dengan penuh kesedihan, “Orang lain itu……. Yi Fan sunbae? Apa kau benar-benar mencintainya?”

Sang Hee tertegun mendengar pertanyaan itu dari Tao, karena ia sendiri tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan.

“N-ne… Aku masih belum yakin akan perasaanku padanya, tapi…. kemungkinan besar aku mencintainya, mungkin.”, dengan ragu-ragu Sang Hee menjawab pertanyaan Tao. Setidaknya itu lebih baik daripada ia tidak memberikan jawaban apapun.

“Arasseo… I got it.. Kelihatannya kau memang memiliki rasa cinta padanya, walaupun sepertinya perasaan itu masih belum utuh.”

Suasana tiba-tiba menjadi hening untuk sesaat, sebelu akhirnya Tao kembali membuka mulutnya.

“Sang Hee-ah, bolehkah aku meminta 1 hal padamu?”, Tao menatap lurus kearah kedua mata Sang Hee dan memberikan tatapan yang se-meyakinkan mungkin untuknya.

“1 hal? Apa itu? Aku akan melakukan apapun selama aku sanggup.”, Sang Hee terlihat sangat antusias mengenai permintaan Tao.

Tao langsung membungkukkan badannya 90o begitu mendengar jawaban Sang Hee. “Tolong, jangan pernah sakiti perasaan Yi Fan sunbae sedikitpun jika kau nanti jadian dengannya. Jebal... Please don’t ever hurt the one that I love..”.


Sang Hee POV

“Tolong, jangan pernah sakiti perasaan Yi Fan sunbae sedikitpun jika kau nanti jadian dengannya. Jebal... Please don’t ever hurt the one that I love..”.

M-mwoya???

Dia masih waras, kan? Mengapa dia meminta hal seperti itu?

Hokshi………. Mungkinkah Tao itu……..

“Huh?? Apa maksud perkataanmu tadi? Kau tidak sedang bercanda, kan?”, aku harus memastikannya, aku tak boleh terbawa imajinasiku sendiri.

“Maafkan aku karena membuatmu kebingungan. Sebenarnya……….. se-sebenarnya aku juga…….. aku juga mencintai Yi Fan sunbae. Aku tahu tak seharusnya aku seperti ini. Aku tahu cinta ini salah. Tapi……. entah kenapa sejak saat aku pertama bertemu dengannya, aku sudah memiliki rasa seperti ini padanya. Tolong jangan beritahu orang lain mengenai hal ini. Aku mohon padamu…”

“Mwo??? Bagaimana bisa? Kalian kan……”, aku sengaja tak melanjutkan perkataanku karena aku takut akan melukai hatinya. Tapi aku masih tak menyangka, ternyata dia benar-benar mencintai Yi Fan sunbae.

Aku rasa inilah yang mereka katakan sebagai  cinta terlarang, mungkin.

“Apa kau menganggapku aneh karena mencintai sesama jenis? Terserah kau mau menganggapku apa.. tapi yang jelas aku tak berharap kau menyebarkan hal ini.”, Tao mengatakannya dengan sesenggukan, kulihat airmatanya menetes membasahi pipinya.

“Awalnya mungkin aku memang sedikit menganggapmu aneh, tapi setelah tahu kalau kau benar-benar mencintainya, aku kasihan padamu karena mengalami perasaan yang terlarang. Jujur saja, aku tak tahu apa-apa tentang cinta, jadi aku tak tahu bagaimana menghiburmu... Tapi  yang pasti aku tak akan memberitahukan hal ini pada siapapun, aku janji.”, ku ulaskan senyumku sambil mengacungkan jari kelingkingku.

“Gomawo….”, Tao pun balas mengacungkan kelingkingnya dan mengaitkannya dengan milikku. Kulihat ia mengulaskan senyum yang sangat manis, walau pipinya masih basah.

Dalam hati aku mengatakan, ‘Tao-ya, suatu saat kau pasti menemukan cinta yang tepat’.


Author POV

Hari semakin sore, setelah membuat janji di taman belakang sekolah dengan Sang Hee, Tao langsung pergi ke dojo karena ia harus latihan untuk olimpiade Wushu tingkat Nasional. Sementara Sang Hee, dia daritadi mondar-mandir di depan loker seseorang sambil memegang sebuah amplop.

“Apakah aku harus menaruhnya disini? Apa aku harus memberikan surat ini?”, Sang Hee masih ragu dengan keputusannya untuk menaruh surat yang ditulisnya.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Sang Hee dari belakang.


Sang Hee POV

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.

“Apa yang kau lakukan disini?”, suara ini....... jangan-jangan............. Yi Fan sunbae?

Aisshh... bagaimana ini? Aku harus segera pergi dari sini, tapi bagaimana dengan surat ini? Aku belum sempat menaruhnya.

“Hey, kenapa kau diam saja? Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau mematung di depan lokerku?”, oh tidak!! Aku harus segera pergi!

Tanpa menjawab pertanyaannya, aku segera lari begitu saja menjauhinya. Aku tak ingin dia melihat wajahku.

Setelah agak jauh, kutoleh ke belakang, untung saja dia tidak mengejarku... Entah bagaimana nasibku nanti jika dia benar-benar mengejarku.

Syukurlah, aku bisa lolos darinya....


Kris POV

Siapa sebenarnya yeoja tadi? Kenapa dia lari begitu saja? Memangnya dia kira aku penjahat yang akan menculiknya? Ckckck....

Tunggu dulu, sepertinya dia menjatuhkan sesuatu.

Surat?

Ah!! Surat ini...... kenapa warna amplopnya sama dengan surat yang kemarin aku temukan di lokerku? Benar-benar sebuah kebetulan.

Tapi... apa benar ini kebetulan? Atau mungkin...........

Kulihat namaku tertera di amlop surat ini, apakah ini memang untukku? Kalau benar, berarti yeoja tadi adalah.......

Ah, daripada terus-menerus penasaran, lebih baik aku baca saja surat ini.


'Halo, Kakek Yi Fan!!! :D
Bagaimana dengan suratku yang kemarin? Pasti kau sudah membacanya ‘kan?
Apa kau masih sedih? Aku harap tidak...

Yi Fan sunbae, apa kau pernah ke Lotte World? Kau tahu, disana ada banyak hal yang bisa mengembalikan senyummu. Apa kau tidak mau pergi kesana?
                                                                                                                                            -Nugu? :p -'


Hmm... Lagi-lagi dia menyebutku Kakek-kakek... -_-" huh... Apa dia tak bisa melihat wajah tampanku ini dengan jelas? Bahkan jika dilihat dari ujung Namsan Tower pun, aku tetap terlihat tampan.

Sepertinya dugaanku benar, yeoja tadi adalah penulis surat ini, itulah sebabnya ia tadi tiba-tiba kabur.
Kenapa dia menawariku untuk pegi ke Lotte World? Memang benar, aku belum pernah kesana satu kalipun, karena aku tidak pernah tertarik dengan tempat yang kekanak-kanakan seperti itu.

Tapi... Apa salahnya jika aku kesana sekali saja?


-oOo-


@Lotte World

Kris POV

Tepat seperti perkiraanku. Tempat ini sungguh kekanak-kanakan. Banyak sekali wahana yng biasa disukai anak-anak kecil disini. Tapi yang aku herankan, kenapa wahana itu dipenuhi oleh para pasangan remaja yang kelihatnnya sedang berkencan? Apa masa kecil mereka kurang bahagia?
Aku telah mengelilingi Lotte World ini selama berjam-jam, tapi aku tak menemukan satupun hal yang menarik.

Daritadi aku hanya memperhatikan seorang yeoja yang duduk di bawah pohon yang terletak jauh dari keramaian. Sepertinya ia sedang menggambar sesuatu, karena aku melihat ia memegang sesuatu yang mirip dengan sketchbook.

Karena penasaran, dengan lancangnya aku menghampiri yeoja itu.

"Chogiyo... bolehkah aku duduk di sebelahmu?", aku tak bisa melihat wajah yeoja ini, karena terhalang oleh sketchbooknya.

"e-eum... Silakan..", suara ini........ sepertinya aku mngenalinya. "Neo.. apa aku pernah bertemu denganmu sebelumnya? Kenapa kau menutupi wajahmu seperti itu?", aku mencoba menatap matanya, aku yakin aku pernah bertemu dengannya.

Diapun menurunkan sketchbook yang menutupi wajahnya. Betapa terkejutnya aku, ternyata yeoja yang berada di sebelahku ini adalah Lee Sang Hee, yeoja yang kemarin bertabrakan denganku di koridor sekolah.

"Annyeong, Yi Fan Sunbae.. Kebetulan sekali ya kita bertemu disini.. Sangat mengejutkan ternyata sunbae juga pergi ke tempat seperti ini. I think this kind of place isn't your style, tapi ternyata aku salah."

"Tidak, kau benar. Aku memag tidak menyukai tempat yang kekanak-kanakan seperti ini."

"Lalu.. kenapa kau kemari? Apa seseorang ingin menemuimu disini?"

"Mungkin. Orang itu hanya mengirimiku surat, dia mengatakan bahwa disini ada hal yang dapat mengembalikan senyumku. Tapi aku rasa dia salah."

"Apa kau benar-benar tidak menemukan hal yang menyenangkan disini? Bukankah disini banyak wahana yang asyik? Apa kau mau aku menunjukkannya padamu? Sesuatu yang akan membawa senyummu kembali.", Sang Hee merapikan peralatan menggambarnya, berdiri, lalu mengulurkan tangannya padaku.

"Okay, I'll go with you.", kuterima uluran tangannya tanpa ragu sedikitpun. Diapun membawaku menuju salah satu wahana disini.

"Sunbae, sebelum kita ke wahana itu, bolehkah aku membeli sesuatu terlebih dahulu?"

"Tentu saja. Memangnya apa yang akan kau beli? Aku akan membayanya untukmu."

"Jinjjayo? Kalau begitu ayo kita kesana!", Sang Hee menarik tanganku menuju stan permen kapas.

"Paman, aku beli 1..", aku segera membuka dompetku dan memberikannya pada Ahjussi penjual permen itu.

"Terimakasih telah membeli. Semoga kencan kalian menyenangkan..", apa? kencan? Apa kami terlihat seperti sepasang kekasih?

"Paman selalu saja mengatakan hal yang tidak masuk akal. Kami tidak berkencan. Terimakasih banyak paman, besok aku pasti beli lagi..", lagi? Apa dia sering kemari? Kelihatannya dia juga sangat akrab dengan paman penjual permen kapas itu.

"Sunbae, kita sudah sampai..", Ferris Wheel (Komedi Putar)? Kenapa dia mengajakku ke wahana ini?

"Kajja Sunbae, aku sudah membeli tiketnya. Untung saja ini bukan hari Minggu, jadi kita tidak perlu mengantri."

Aku dan Sang Hee pun memasuki salah satu ruangan(?) di wahana ini. Ketika Ferris Wheel mulai berputar, kulihat Sang Hee mulai melahap permen kapasnya. Dia terlihat sangat bahagia. Entah kenapa melihatnya seperti itu, tanpa sadar aku mengulaskan senyumku.

"Sunbae, kau mau?", dia menyodorkan permen kapasnya padaku. "Tidak, aku tidak suka makanan yang manis-manis"

"eeh? Waeyo? Permen ini enak loh.. Sunbae coba deh, sedikit saja..", Sang Hee menyuapkan permennya padaku, akupun tak bisa menolaknya lagi, jadi terpaksa aku makan.

"Eotte? Mashita?"

"eumm.."

"Sunbae tahu tidak? Makanan yang manis itu bisa menghilangkan stres loh.. jadi saat Sunbae sedang stres atau semacamnya, Sunbae makan permen saja, pasti akan tenang..", aku hanya menanggapi pernyataan Sang Hee dengan sebuah senyuman, dan diapun melanjutkan memakan permen kapasnya sambil sesekali melihat ke luar jendela.

Ferris Wheel telah melaju sampai puncak, pemandangan seisi kota benar-benar terlihat jelas. "Cantiknya....", kulihat Sang Hee menatap keluar jendela dengan pandangan penuh takjub. Ya, aku akui dia memang benar. Pemandangannya terlihat sangat cantik.

"Sunbae, bukankah sangat menyenangkan bisa melihat seisi kota dari atas sini?", dia masih menatap ke luar jendela. Terlihat jelas bahwa dia sangat menyukainya.


Author POV

Tanpa sadar Yi Fan terus-menerus menatap Sang Hee yang asyik memperhatikan pemandangan dari jendela.

Ia tak bisa mengalihkan pandangannya sedetikpun dari wajah Sang Hee, hatinya terus berdetak kencang , tanpa bisa menghentikannya.

Perlahan Ferris Wheel yang mereka tumpangi mulai turun, Sang Hee pun melanjutkan menikmati permen kapasnya.

"Sang Hee-ah, bolehkah aku minta permen kapasmu lagi?"

"Eum.. tentu saja", Sang Hee tersenyum, lalu menyodorkan permen kapasnya pada Yi Fan. Yi Fan semakin mendekatkan wajahnya, semakin dekat dengan permen kapas Sang Hee, ia pun menggigitnya tanpa melahap permen itu.

Yi Fan terus mendekatkan wajahnya yang bahkan telah melewati permen kapas yang disodorkan Sang Hee. Wajah Yi Fan semakin dekat dengan Sang Hee, dan akhinya bibirnya yang terselip permen kapas itu menempel dengan bibir Sang Hee.

Seakan terangsang(?) oleh sikap sunbaenya, mulutnya seperti tiba-tiba membuka dengan sendirinya dan iapun melahap permen kapas di bibir Yi Fan. Mereka pun seakan terpaku pada posisi itu, tak bergerak sama sekali.

5 detik sebelum Ferris Wheel benar-benar berhenti, Sang Hee memalingkan wajahnya yang memerah dan tentu saja sikapnya itu membuat Yi Fan terkekeh.

Ketika Ferris Wheel berhenti, Sang Hee langsung lari begitu saja tanpa memperdulikan Yi Fan.
"Sang Hee-ya, tunggu!!..."


Kris POV
"Sang Hee-ya, tunggu!!... Tasmu tertinggal!!", aku berusaha mengejar dan memanggil Sang Hee berkali-kali, namun ia tak menghiraukanku hingga aku kehilangan jejaknya.

Aku tahu aku salah. Tapi...... aku sendiri tak tahu mengapa aku bisa melakukan hal seperti tadi padanya. Sepertinya ada yang salah dengan otakku... tidak, tapi dengan hatiku. Mungkinkah aku......
Aisshh.. Apa yang aku pikirkan disaat seperti ini? Aku harus segera mengembalikan Tas Sang Hee, ia pasti mencarinya.

Tapi bagaimana aku bisa mengembalikannya sedangkan aku tak tahu alamat rumahnya? Mungkin di dalam tasnya ada kartu identitasnya yang bisa aku gunakan sebagai petunjuk.

Dengan ragu-ragu kubuka resleting tas Sang Hee dan sedikit menggeledah isi tasnya.

"Ah.. aku tak bisa menemukannya. Hanya ada alat tulis, Sketchbook, dan sebuah...... Amplop??", betapa terkejutnya aku ketika kulihat amplop itu sama persis dengan amplop surat yang pernah aku dapat, dan di amplop ini juga tertulis untukku.

Mungkinkah............

Kubaca surat yang saat ini kupegang.


'Annyeong^0^)/
Apa Kakek Yi Fan sudah mengunjungi Lotte World? Apa kau menemukan sesuatu yang telah membuatmu senyummu kembali? Aku harap kau menemukannya.
Oh iya, apa kau menaiki wahana Ferris Wheel juga?
                                                                                                                     -Ferris Wheel Yeoja :p-'


Iya. Tak salah lagi. 

Sang Hee pasti pengirim surat-surat itu.

Aku tak boleh terus-menerus disini. Aku harus segera mengembalikan tas Sang Hee. Dia bilang dia sering kesini, mungkin rumahnya dekat darisini. 

Aku harus mencarinya.


Author POV

Yi Fan berlari sekuat tenaga mencari Sang Hee, menelisik ke seluruh arah, dan akhirnya ia menemukan Sang Hee yang sedang duduk termenung di teras sebuah rumah.

"Sang Hee-ya!"

Baru saja Yi Fan memanggilnya, Sang Hee langsung bergegas memasuki rumahnya.

"Tunggu, jangan mengacuhkanku!", Yi Fan segera berlari menghampiri Sang Hee dan memeluknya dari belakang sebelum Sang Hee masuk ke rumahnya.

"I already know it all. Aku tahu bahwa kau adalah penulis surat-surat yang selama ini aku dapat di sekolah. I know.... I know that you love me and... I.... I love you too. Apa kau masih mau mengacuhkanku?"

Sang Hee membalikkan badannya dan membalas pelukan Yi Fan, Sunbae yang telah merasuki pikiran dan hatinya. Terlihat airmata membasahi pipinya. Bukan airmata kesedihan, melainkan airmata kebahagiaan.

"Gomawo, Yi Fan Sunbae.... hiks.. Gomawo..."

Yi Fan mengeratkan pelukannya dan mengelus-elus kepala Sang Hee. "Kau boleh memanggilku Oppa jika kau mau. Kris Oppa."

"Kris?", Sang Hee menatap wajah Yi Fan dengan penuh keheranan. Seakan ada tanda tanya besar di kepalanya.

"Ya, keluarga dan sahabatku memanggilku seperti itu.. kau juga boleh melakukannya.", Yi Fan mengulaskan senyum pada Sang Hee lalu mencium keningnya.

"Saranghae, Sang Hee-ya.."

"Nado Saranghaeyo, Kris Oppa...."


-End-