Author: kuroneko
Rating: PG
Genre: Romance,
School Life
Length: Twoshoot
Main Cast:
-Lee Sang Hee (OC)
-Wu Yi Fan
-Lee Sang Hee (OC)
-Wu Yi Fan
Other Cast:
-Find it by yourself ^^
-Find it by yourself ^^
Disclaimer:
Annyeong!!
>o<)/ kalian nungguin FF lanjutan ini gak?? *reader: nggaakk* yaudah deh
gapapa. Yang penting lanjutannya udah author bikin, jadi ceritanya gak
nanggung.
Cast milik Tuhan, dan orangtua mereka masing-masing. All the story is mine.
Cast milik Tuhan, dan orangtua mereka masing-masing. All the story is mine.
Don’t Copy Without Permission, Don’t Bash, Happy Reading, and Please
drop your Comment ^_^
*Beware! Typo Everywhere!!*
Cerita Sebelumnya:
Bel pulang sekolah telah berdering
beberapa saat yang lalu, namun masih ada seorang yeoja yang belum beranjak dari
tempat duduknya. Ia terlihat sedang menulis sesuatu. Disaat tengah menulis,
tanpa ia sadari seorang namja memperhatikannya dari luar kelas. Namja itu
terlihat menyunggingkan bibirnya. Tidak, bukan tersenyum. Lebih tepatnya
terlihat seperti smirk.
Apa yang ditulis yeoja itu? Siapakah dia?
Siapa pula
namja misterius yang memperhatikan yeoja itu?
Author POV
“Yap! Akhirnya selesai juga.. Sekarang
tinggal aku taruh di lokernya saja..”, yeoja itu tersenyum sambil menatap lekat
sebuah amplop yang dipegangnya.
“Aku harap dia akan membacanya”. Setelah
membulatkan tekadnya, yeoja benama Lee Sang Hee itu beranjak dari tempat
duduknya dan menuju loker sekolah. Namun, baru saja sampai di depan pintu
kelas, sesosok namja bertubuh tinggi menghadangnya. Sang Hee tak bisa menatap
wajah namja yang menghadangnya itu karena terhalang sinar matahari sore yang
menelusup melalui jendela kelas.
“Chogiyo… kau menghala-“
Belum tuntas yeoja itu menyelesaikan
kalimatnya, tiba-tiba tangan Sang Hee ditarik oleh namja tadi, entah kemana
namja itu akan membawanya.
Di Halaman Belakang
Sekolah.
Sang Hee POV
Halaman belakang? Kenapa dia membawaku
kesini?
Tunggu..
Kenapa dia bisa tahu tempat ini?
Siapa sebenarnya namja ini?
Aku tak bisa melihat wajahnya daritadi.
Jinjja… membuatku penasaran saja.
Kulihat namja itu hendak membalikkan
badannya. Kuperhatikan setiap gerak-geriknya, daan setelah tepat menghadapku,
dia benar-benar membuatku terkejut.
Ternyata namja yang menarikku ke halaman
belakang ini adalah Huang Zi Tao, murid pindahan dari Qingdao, China yang sejak
satu minggu yang lalu telah menjadi teman sekelasku.
“aishhh Tao-ya, ternyata kau yang
membawaku kesini. Aku kira kau penculik karena tiba-tiba menarikku begitu
saja..”
“Sang Hee-ah, please….”, Tao tiba-tiba
menggenggam kedua tanganku, genggamannya sangat erat sehingga aku tak bias
melepasnya.
Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba
seperti ini? “Tao-ya, gapjagi wae? wae geuraeyo?”, kulihat tatapan matanya tak
seperti biasanya. Biasanya matanya terlihat tajam, tapi kali ini…. mata itu
memancarkan kesedihan yang sangat kuat, seakan ia akan kehilangan seseorang yang
sangat ia sayang.
“Please, don’t fall for him, Sang Hee-ah.
I love you. Please, would you go out with me?”
“M-mwoya?
Ap-apa yang baru saja kau katakan? You said that you love me? Ah.. aku
pasti salah dengar. Mana mungkin kau mengatakan itu, ya kan?”
“Tidak. Kau tidak salah dengar, aku
memang mengatakannya. Saranghaeyo, Sang Hee-ah..”, tiba-tiba Tao memelukku.
Sangat erat, sehingga aku tak bias melepaskannya.
Entah kenapa, tubuhku merasakan
kehangatan ketika dia memelukku seperti ini.
Rasanya seperti….. aku ingin tetap
seperti ini.
Ah, tunggu.
Apa yang aku pikirkan? Dia pasti menjebakku. Aku harus terus hati-hati, jika tidak........
“Lepaskan
aku!”, aku mulai memberontak dan Tao pun melepaskan pelukannya.
“Apa yang sebenarnya kau rencanakan, huh?
Darimana kau tahu tempat ini? Kenapa kau tiba-tiba membawaku kesini? Dan apa
maksud perkataanmu tadi? Jawab aku!”
Author POV
“Apa yang sebenarnya kau rencanakan, huh?
Darimana kau tahu tempat ini? Kenapa kau tiba-tiba membawaku kesini? Dan apa
maksud perkataanmu tadi? Jawab aku!”, Sang Hee menatap sinis pada Tao dan
melontarkan berbagai pertanyaan padanya layaknya sebuah introgasi.
“Aku tak merencanakan apapun yang buruk
padamu. Aku hanya mencintaimu. Apa kau tak boleh mencintaimu? Aku tahu tempat
ini karena aku sering membuntutimu kesini. Taman belakang ini pasti tempat
favoritmu, kan? Aku membawamu kesini, karena aku ingin menyatakan perasaanku di
tempat ini, tempat dimana aku pertamakali jatuh cinta padamu. Aku tahu
akhir-akhir ini kau sering memperhatikan Yi Fan sunbae, tapi aku tak ingin
kalah darinya, karena aku benar-benar mencintaimu. Lagipula, Yi Fan sunbae
belum tahu kalau pengirim surat misterius itu adalah kau, kan?”, Tao menjawab
semua pertanyaan Sang Hee secara rinci, membuat Sang Hee terpaku mendengarnya.
“Mianhae, Tao-ya.. Kau mungkin memang
mencintaiku, tapi aku… aku sudah mencintai orang lain.. Jeongmal mianhae…”,
Sang Hee menggenggam tangan Tao sambil meminta maaf padanya. Ia sangat merasa
bersalah karena telah menolak orang yang mencintainya.
Tao menatap wajah Sang Hee dengan penuh
kesedihan, “Orang lain itu……. Yi Fan sunbae? Apa kau benar-benar mencintainya?”
Sang Hee tertegun mendengar pertanyaan
itu dari Tao, karena ia sendiri tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan.
“N-ne… Aku masih belum yakin akan
perasaanku padanya, tapi…. kemungkinan besar aku mencintainya, mungkin.”,
dengan ragu-ragu Sang Hee menjawab pertanyaan Tao. Setidaknya itu lebih baik
daripada ia tidak memberikan jawaban apapun.
“Arasseo… I got it.. Kelihatannya kau
memang memiliki rasa cinta padanya, walaupun sepertinya perasaan itu masih
belum utuh.”
Suasana tiba-tiba menjadi hening untuk
sesaat, sebelu akhirnya Tao kembali membuka mulutnya.
“Sang Hee-ah, bolehkah aku meminta 1 hal
padamu?”, Tao menatap lurus kearah kedua mata Sang Hee dan memberikan tatapan
yang se-meyakinkan mungkin untuknya.
“1 hal? Apa itu? Aku akan melakukan
apapun selama aku sanggup.”, Sang Hee terlihat sangat antusias mengenai
permintaan Tao.
Tao langsung membungkukkan badannya 90o
begitu mendengar jawaban Sang Hee. “Tolong, jangan pernah sakiti perasaan Yi
Fan sunbae sedikitpun jika kau nanti jadian dengannya. Jebal... Please don’t
ever hurt the one that I love..”.
Sang Hee POV
“Tolong, jangan pernah sakiti perasaan Yi
Fan sunbae sedikitpun jika kau nanti jadian dengannya. Jebal... Please don’t
ever hurt the one that I love..”.
M-mwoya???
Dia masih waras, kan? Mengapa dia meminta
hal seperti itu?
Hokshi………. Mungkinkah Tao itu……..
“Huh?? Apa maksud perkataanmu tadi? Kau
tidak sedang bercanda, kan?”, aku harus memastikannya, aku tak boleh terbawa
imajinasiku sendiri.
“Maafkan aku karena membuatmu
kebingungan. Sebenarnya……….. se-sebenarnya aku juga…….. aku juga mencintai Yi
Fan sunbae. Aku tahu tak seharusnya aku seperti ini. Aku tahu cinta ini salah.
Tapi……. entah kenapa sejak saat aku pertama bertemu dengannya, aku sudah
memiliki rasa seperti ini padanya. Tolong jangan beritahu orang lain mengenai
hal ini. Aku mohon padamu…”
“Mwo??? Bagaimana bisa? Kalian kan……”,
aku sengaja tak melanjutkan perkataanku karena aku takut akan melukai hatinya.
Tapi aku masih tak menyangka, ternyata dia benar-benar mencintai Yi Fan sunbae.
Aku rasa inilah yang mereka katakan
sebagai cinta terlarang, mungkin.
“Apa kau menganggapku aneh karena
mencintai sesama jenis? Terserah kau mau menganggapku apa.. tapi yang jelas aku
tak berharap kau menyebarkan hal ini.”, Tao mengatakannya dengan sesenggukan,
kulihat airmatanya menetes membasahi pipinya.
“Awalnya mungkin aku memang sedikit
menganggapmu aneh, tapi setelah tahu kalau kau benar-benar mencintainya, aku
kasihan padamu karena mengalami perasaan yang terlarang. Jujur saja, aku tak
tahu apa-apa tentang cinta, jadi aku tak tahu bagaimana menghiburmu...
Tapi yang pasti aku tak akan
memberitahukan hal ini pada siapapun, aku janji.”, ku ulaskan senyumku sambil
mengacungkan jari kelingkingku.
“Gomawo….”, Tao pun balas mengacungkan
kelingkingnya dan mengaitkannya dengan milikku. Kulihat ia mengulaskan senyum
yang sangat manis, walau pipinya masih basah.
Dalam hati aku mengatakan, ‘Tao-ya, suatu
saat kau pasti menemukan cinta yang tepat’.
Author POV
Hari semakin sore, setelah membuat janji
di taman belakang sekolah dengan Sang Hee, Tao langsung pergi ke dojo karena ia
harus latihan untuk olimpiade Wushu tingkat Nasional. Sementara Sang Hee, dia
daritadi mondar-mandir di depan loker seseorang sambil memegang sebuah amplop.
“Apakah aku harus menaruhnya disini? Apa
aku harus memberikan surat ini?”, Sang Hee masih ragu dengan keputusannya untuk
menaruh surat yang ditulisnya.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Sang
Hee dari belakang.
Sang Hee POV
Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari
belakang.
“Apa yang kau lakukan disini?”, suara
ini....... jangan-jangan............. Yi Fan sunbae?
Aisshh... bagaimana ini? Aku harus segera
pergi dari sini, tapi bagaimana dengan surat ini? Aku belum sempat menaruhnya.
“Hey, kenapa kau diam saja? Siapa kau
sebenarnya? Kenapa kau mematung di depan lokerku?”, oh tidak!! Aku harus segera
pergi!
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku segera
lari begitu saja menjauhinya. Aku tak ingin dia melihat wajahku.
Setelah agak jauh, kutoleh ke belakang,
untung saja dia tidak mengejarku... Entah bagaimana nasibku nanti jika dia
benar-benar mengejarku.
Syukurlah, aku bisa lolos darinya....
Kris POV
Siapa sebenarnya yeoja tadi? Kenapa dia
lari begitu saja? Memangnya dia kira aku penjahat yang akan menculiknya?
Ckckck....
Tunggu dulu, sepertinya dia menjatuhkan
sesuatu.
Surat?
Ah!! Surat ini...... kenapa warna
amplopnya sama dengan surat yang kemarin aku temukan di lokerku? Benar-benar
sebuah kebetulan.
Tapi... apa benar ini kebetulan? Atau
mungkin...........
Kulihat namaku tertera di amlop surat
ini, apakah ini memang untukku? Kalau benar, berarti yeoja tadi adalah.......
Ah, daripada terus-menerus penasaran,
lebih baik aku baca saja surat ini.
'Halo, Kakek Yi Fan!!! :D
Bagaimana dengan suratku yang kemarin? Pasti kau sudah membacanya ‘kan?
Apa kau masih sedih? Aku harap tidak...
Yi Fan sunbae, apa kau pernah ke Lotte World? Kau tahu, disana ada banyak hal yang bisa mengembalikan senyummu. Apa kau tidak mau pergi kesana?
Bagaimana dengan suratku yang kemarin? Pasti kau sudah membacanya ‘kan?
Apa kau masih sedih? Aku harap tidak...
Yi Fan sunbae, apa kau pernah ke Lotte World? Kau tahu, disana ada banyak hal yang bisa mengembalikan senyummu. Apa kau tidak mau pergi kesana?
-Nugu?
:p -'
Hmm... Lagi-lagi dia menyebutku
Kakek-kakek... -_-" huh... Apa dia tak bisa melihat wajah tampanku ini
dengan jelas? Bahkan jika dilihat dari ujung Namsan Tower pun, aku tetap
terlihat tampan.
Sepertinya dugaanku benar, yeoja tadi
adalah penulis surat ini, itulah sebabnya ia tadi tiba-tiba kabur.
Kenapa dia menawariku untuk pegi ke Lotte
World? Memang benar, aku belum pernah kesana satu kalipun, karena aku tidak
pernah tertarik dengan tempat yang kekanak-kanakan seperti itu.
Tapi... Apa salahnya jika aku kesana
sekali saja?
-oOo-
@Lotte World
Kris POV
Tepat seperti perkiraanku. Tempat ini
sungguh kekanak-kanakan. Banyak sekali wahana yng biasa disukai anak-anak kecil
disini. Tapi yang aku herankan, kenapa wahana itu dipenuhi oleh para pasangan
remaja yang kelihatnnya sedang berkencan? Apa masa kecil mereka kurang bahagia?
Aku telah mengelilingi Lotte World ini
selama berjam-jam, tapi aku tak menemukan satupun hal yang menarik.
Daritadi aku hanya memperhatikan seorang
yeoja yang duduk di bawah pohon yang terletak jauh dari keramaian. Sepertinya
ia sedang menggambar sesuatu, karena aku melihat ia memegang sesuatu yang mirip
dengan sketchbook.
Karena penasaran, dengan lancangnya aku
menghampiri yeoja itu.
"Chogiyo... bolehkah aku duduk di
sebelahmu?", aku tak bisa melihat wajah yeoja ini, karena terhalang oleh
sketchbooknya.
"e-eum... Silakan..", suara
ini........ sepertinya aku mngenalinya. "Neo.. apa aku pernah bertemu
denganmu sebelumnya? Kenapa kau menutupi wajahmu seperti itu?", aku
mencoba menatap matanya, aku yakin aku pernah bertemu dengannya.
Diapun menurunkan sketchbook yang
menutupi wajahnya. Betapa terkejutnya aku, ternyata yeoja yang berada di
sebelahku ini adalah Lee Sang Hee, yeoja yang kemarin bertabrakan denganku di
koridor sekolah.
"Annyeong, Yi Fan Sunbae.. Kebetulan
sekali ya kita bertemu disini.. Sangat mengejutkan ternyata sunbae juga pergi
ke tempat seperti ini. I think this kind of place isn't your style, tapi
ternyata aku salah."
"Tidak, kau benar. Aku memag tidak
menyukai tempat yang kekanak-kanakan seperti ini."
"Lalu.. kenapa kau kemari? Apa
seseorang ingin menemuimu disini?"
"Mungkin. Orang itu hanya
mengirimiku surat, dia mengatakan bahwa disini ada hal yang dapat mengembalikan
senyumku. Tapi aku rasa dia salah."
"Apa kau benar-benar tidak menemukan
hal yang menyenangkan disini? Bukankah disini banyak wahana yang asyik? Apa kau
mau aku menunjukkannya padamu? Sesuatu yang akan membawa senyummu
kembali.", Sang Hee merapikan peralatan menggambarnya, berdiri, lalu
mengulurkan tangannya padaku.
"Okay, I'll go with you.",
kuterima uluran tangannya tanpa ragu sedikitpun. Diapun membawaku menuju salah
satu wahana disini.
"Sunbae, sebelum kita ke wahana itu,
bolehkah aku membeli sesuatu terlebih dahulu?"
"Tentu saja. Memangnya apa yang akan
kau beli? Aku akan membayanya untukmu."
"Jinjjayo? Kalau begitu ayo kita
kesana!", Sang Hee menarik tanganku menuju stan permen kapas.
"Paman, aku beli 1..", aku
segera membuka dompetku dan memberikannya pada Ahjussi penjual permen itu.
"Terimakasih telah membeli. Semoga
kencan kalian menyenangkan..", apa? kencan? Apa kami terlihat seperti
sepasang kekasih?
"Paman selalu saja mengatakan hal
yang tidak masuk akal. Kami tidak berkencan. Terimakasih banyak paman, besok
aku pasti beli lagi..", lagi? Apa dia sering kemari? Kelihatannya dia juga
sangat akrab dengan paman penjual permen kapas itu.
"Sunbae, kita sudah sampai..",
Ferris Wheel (Komedi Putar)? Kenapa dia mengajakku ke wahana ini?
"Kajja Sunbae, aku sudah membeli
tiketnya. Untung saja ini bukan hari Minggu, jadi kita tidak perlu
mengantri."
Aku dan Sang Hee pun memasuki salah satu
ruangan(?) di wahana ini. Ketika Ferris Wheel mulai berputar, kulihat Sang Hee
mulai melahap permen kapasnya. Dia terlihat sangat bahagia. Entah kenapa
melihatnya seperti itu, tanpa sadar aku mengulaskan senyumku.
"Sunbae, kau mau?", dia
menyodorkan permen kapasnya padaku. "Tidak, aku tidak suka makanan yang
manis-manis"
"eeh? Waeyo? Permen ini enak loh..
Sunbae coba deh, sedikit saja..", Sang Hee menyuapkan permennya padaku,
akupun tak bisa menolaknya lagi, jadi terpaksa aku makan.
"Eotte? Mashita?"
"eumm.."
"Sunbae tahu tidak? Makanan yang
manis itu bisa menghilangkan stres loh.. jadi saat Sunbae sedang stres atau
semacamnya, Sunbae makan permen saja, pasti akan tenang..", aku hanya
menanggapi pernyataan Sang Hee dengan sebuah senyuman, dan diapun melanjutkan
memakan permen kapasnya sambil sesekali melihat ke luar jendela.
Ferris Wheel telah melaju sampai puncak, pemandangan
seisi kota benar-benar terlihat jelas. "Cantiknya....", kulihat Sang
Hee menatap keluar jendela dengan pandangan penuh takjub. Ya, aku akui dia
memang benar. Pemandangannya terlihat sangat cantik.
"Sunbae, bukankah sangat
menyenangkan bisa melihat seisi kota dari atas sini?", dia masih menatap
ke luar jendela. Terlihat jelas bahwa dia sangat menyukainya.
Author POV
Tanpa sadar Yi Fan terus-menerus menatap
Sang Hee yang asyik memperhatikan pemandangan dari jendela.
Ia tak bisa mengalihkan pandangannya
sedetikpun dari wajah Sang Hee, hatinya terus berdetak kencang , tanpa bisa
menghentikannya.
Perlahan Ferris Wheel yang mereka
tumpangi mulai turun, Sang Hee pun melanjutkan menikmati permen kapasnya.
"Sang Hee-ah, bolehkah aku minta
permen kapasmu lagi?"
"Eum.. tentu saja", Sang Hee
tersenyum, lalu menyodorkan permen kapasnya pada Yi Fan. Yi Fan semakin
mendekatkan wajahnya, semakin dekat dengan permen kapas Sang Hee, ia pun
menggigitnya tanpa melahap permen itu.
Yi Fan terus mendekatkan wajahnya yang
bahkan telah melewati permen kapas yang disodorkan Sang Hee. Wajah Yi Fan
semakin dekat dengan Sang Hee, dan akhinya bibirnya yang terselip permen kapas
itu menempel dengan bibir Sang Hee.
Seakan terangsang(?) oleh sikap
sunbaenya, mulutnya seperti tiba-tiba membuka dengan sendirinya dan iapun
melahap permen kapas di bibir Yi Fan. Mereka pun seakan terpaku pada posisi
itu, tak bergerak sama sekali.
5 detik sebelum Ferris Wheel benar-benar
berhenti, Sang Hee memalingkan wajahnya yang memerah dan tentu saja sikapnya
itu membuat Yi Fan terkekeh.
Ketika Ferris Wheel berhenti, Sang Hee
langsung lari begitu saja tanpa memperdulikan Yi Fan.
"Sang Hee-ya, tunggu!!..."
Kris POV
"Sang Hee-ya, tunggu!!... Tasmu
tertinggal!!", aku berusaha mengejar dan memanggil Sang Hee berkali-kali,
namun ia tak menghiraukanku hingga aku kehilangan jejaknya.
Aku tahu aku salah. Tapi...... aku
sendiri tak tahu mengapa aku bisa melakukan hal seperti tadi padanya.
Sepertinya ada yang salah dengan otakku... tidak, tapi dengan hatiku.
Mungkinkah aku......
Aisshh.. Apa yang aku pikirkan disaat
seperti ini? Aku harus segera mengembalikan Tas Sang Hee, ia pasti mencarinya.
Tapi bagaimana aku bisa mengembalikannya
sedangkan aku tak tahu alamat rumahnya? Mungkin di dalam tasnya ada kartu identitasnya
yang bisa aku gunakan sebagai petunjuk.
Dengan ragu-ragu kubuka resleting tas
Sang Hee dan sedikit menggeledah isi tasnya.
"Ah.. aku tak bisa menemukannya.
Hanya ada alat tulis, Sketchbook, dan sebuah...... Amplop??", betapa
terkejutnya aku ketika kulihat amplop itu sama persis dengan amplop surat yang
pernah aku dapat, dan di amplop ini juga tertulis untukku.
Mungkinkah............
Kubaca surat yang saat ini kupegang.
'Annyeong^0^)/
Apa Kakek Yi Fan sudah mengunjungi Lotte World? Apa kau menemukan sesuatu yang telah membuatmu senyummu kembali? Aku harap kau menemukannya.
Oh iya, apa kau menaiki wahana Ferris Wheel juga?
Apa Kakek Yi Fan sudah mengunjungi Lotte World? Apa kau menemukan sesuatu yang telah membuatmu senyummu kembali? Aku harap kau menemukannya.
Oh iya, apa kau menaiki wahana Ferris Wheel juga?
-Ferris
Wheel Yeoja :p-'
Iya. Tak salah lagi.
Sang Hee pasti
pengirim surat-surat itu.
Aku tak boleh terus-menerus disini. Aku
harus segera mengembalikan tas Sang Hee. Dia bilang dia sering kesini, mungkin
rumahnya dekat darisini.
Aku harus mencarinya.
Author POV
Yi Fan berlari sekuat tenaga mencari Sang
Hee, menelisik ke seluruh arah, dan akhirnya ia menemukan Sang Hee yang sedang
duduk termenung di teras sebuah rumah.
"Sang Hee-ya!"
Baru saja Yi Fan memanggilnya, Sang Hee
langsung bergegas memasuki rumahnya.
"Tunggu, jangan
mengacuhkanku!", Yi Fan segera berlari menghampiri Sang Hee dan memeluknya
dari belakang sebelum Sang Hee masuk ke rumahnya.
"I already know it all. Aku tahu
bahwa kau adalah penulis surat-surat yang selama ini aku dapat di sekolah. I
know.... I know that you love me and... I.... I love you too. Apa kau masih mau
mengacuhkanku?"
Sang Hee membalikkan badannya dan
membalas pelukan Yi Fan, Sunbae yang telah merasuki pikiran dan hatinya.
Terlihat airmata membasahi pipinya. Bukan airmata kesedihan, melainkan airmata
kebahagiaan.
"Gomawo, Yi Fan Sunbae.... hiks..
Gomawo..."
Yi Fan mengeratkan pelukannya dan
mengelus-elus kepala Sang Hee. "Kau boleh memanggilku Oppa jika kau mau.
Kris Oppa."
"Kris?", Sang Hee menatap wajah
Yi Fan dengan penuh keheranan. Seakan ada tanda tanya besar di kepalanya.
"Ya, keluarga dan sahabatku
memanggilku seperti itu.. kau juga boleh melakukannya.", Yi Fan
mengulaskan senyum pada Sang Hee lalu mencium keningnya.
"Saranghae, Sang Hee-ya.."
"Nado Saranghaeyo, Kris
Oppa...."
-End-

Tidak ada komentar :
Posting Komentar